Merawat “Datuk” di TWNC

By: On:
Merawat “Datuk” di TWNC

JAKARTA, WartaBHINEKA.com – Semua pihak wajib bergerak bersama mencegah harimau sumatera hilang dari permukaan bumi. kelincahan binatang pemakan daging ini harus dilestarikan dan disaksikan oleh generasi selanjutnya. Salah satu cara melestarikan harimau yakni menyelenggarakan konservasi hewan seperti di Tambling.

Adalah Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) TWNC di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kawasan seluas ribuan hektar ini dikelolah oleh Artha Graha Peduli (AGP) di bawah bimbingan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan mandat menjaga kelestarian flora dan fauna. Nama Tambling ditabalkan karena diapit oleh Teluk Tampang dan Tanjung Belimbing yang kemudian disingkat menjadi Tambling.

Pengusaha nasional Tomy Winata merintis membangun TWNC sejak tahun 1996. Kawasan yang sudah hancur oleh pembalakan liar ini resmi ditangani tahun 2003 sebagai pengelolaan kawasan hutan alam yang resmi ditangani oleh PT Adhiniaga Kreasi Nusa (AKN) anak perusahaan Artha Graha Network.

Melihat keseriusan PT AKN dan AGP membenah hutan yang rusak, pemerintah menyerahkan pengelolaan pelestarian pantai dan laut seluas 15.000 hektar. Dengan demikian, total luas kawasan konservasi yang dipercayakan pemerintah kepada PT AKN mencapai 60.000 hektar.

Kawasan TWNC yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan seluas 324.000 hektare. Pelestarian hutan di kawasan ini sangat penting untuk mencegah abrasi serta meningkatkan deposit oksigen bagi dunia. wal hasil kawasan Tambling sudah hijau dengan hutan yang lebat. Berbagai jenis flora tumbuh dan aneka fauna berkembang biak dengan baik. Tambling kini sudah menjadi konservasi hutan yang menarik.

Kini TWNC menjadi kawasan menarik untuk merawat dan melepasliarkan harimau atau hewan lain ke hutan liar. Sejumlah kerbau liar, babi hutan, rusa hutan dan lain-lain yang mencapai ratusan ekor menjadi jaminan makanan untuk sekitar 20 harimau di hutan liar dan beberapa harimau dalam rehabilitasi dalam perawatan. TWNC memang fokus pada perawatan harimau serta konservasi ratusan jenis yang mencapai 350 jenis burung sebagai objek studi penelitian.

Harimau yang sakit atau kehilangan habitat di hutan, maka diterbangkan ke TWNC untuk disembuhkan lalu dikembalikan ke habitat aslinya. Secara berkala, harimau-harimau yang sudah sembuh karena sakit atau terjerat jebakan dan sudah bisa memburu hewan dilepaskan ke alam bebas.

Perlepasliarkan harimau, elang, penyu dan lain-lain terbaru dilakukan oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersana Tomy Winata pada Sabtu (10/6/2017). Menurut Panglima TNI, bagi TNI, hutan konservasi memiliki nilai strategis oleh sebab itu apabila menginginkan hutan itu abadi maka kewajiban kita semua untuk menjaga dan melestarikannya.
Gatot menuturkan kawasan Hutan bukan hanya dijadikan sebagai tempat latihan bagi pasukan TNI, tetapi juga untuk lebih mengenal flora dan fauna di dalamnya dan bukan untuk dibunuh.

“Kondisi hutan konservasi di Tanah Air saat ini, masih banyak yang rusak atau erosi dibandingkan konservasinya,” jelasnya.

Seekor harimau yang dilepaskanliarkan oleh Gatot dan Tomy adalah berasal dari seekor anak harimau yang ditemukan oleh warga di sekitar konsevasi TWNC pada 21 September 2015. Warga melihat dua harimau dekat Pos Jaga Muara sekitar pemukiman penduduk di Dusun Pengekahan, Provinsi Lampung. Sekitar pukul 13.30 WIB, anak harimau menuju semak-semak di depan Pos Jaga Muara bersama induknya. Anak harimau terluka besar di perut dan sudah tercium bau busuk. Maka tim AGP-TWNC mengevakuasi anak harimau itu ke Pusat Rehabilitasi Satwa (Rescue Center) TWNC.

Ketika ditemukan, anak harimau yang diberi nama Mulli – dalam bahasa Lampung yang berarti anak gadis – umurnya sekitar 5 bulan dengan berat 17 kg serta panjang dari hidung ke ekor yakni 138 sentimeter. Pengawas TWNC memperkirakan Mulli ditinggalkan oleh induknya karena luka terbuka, mengeluarkan belatung di perut serta dalam kondisi malnutrisi.

Ini bukan pertama TWNC mengobati anak harimau yang terluka atau kekurangan gizi. Sebelumnya pada 2011, Rescue Center TWNC menerima harimau yang kaki terluka hingga melahirkan 3 anak harimau di TWNC yang diberi nama Bintang, Topan dan Petir dan kemudian dilepasliarkan. Ini membuktikan TWNC telah mendukung program pelestarian dan penyelamatan satwa liar khususnya harimau sumatera

“Pemerintah meminta konservasi TWNC menonjolkan harimau sumatera sebagai ikon dan kami memenuhi permintaan itu dengan mengerahkan segala upaya menyelamatkan harimau sumatera dari kepunahan. Ada belasa harimau yang direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan,” jelas Tomy suatu ketika

Selain merawat harimau, TWNC membuat nursery pembibitan, rehabilitasi terumbu karang dan semuanya. Tomy menegaskan TWNC ini bukan miliknya. Sebagai anak bangsa, semua warga memiliki tanggung jawab untuk melestarikan harimau sumatera yang semakin berkurang karena diburu atau habitatnya semakin menipis.

Berapa biaya dihabiskan untuk membangun dan merehabilitasi fauna dan flora di TWNC?

“Ini sebuah kehormatan dari pemerintah selama mempercaya kami mengelolah konservasi ini,” pungkas Tomy Winata tanpa menyebutkan angka-angka tersebut.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan