Cerita Mendebarkan Tiga Jam Mengawal Translokasi 5 Harimau Sumatera

Cerita Mendebarkan Tiga Jam Mengawal Translokasi 5 Harimau Sumatera
Oleh : Heka Hertanto, Ketua Umum Artha Graha Peduli

wartaBHINEKA – Derungan Hercules sudah 30 menit meraung-raung di pagi  buta. Sekitar 20 meter dari Hercules milik TNI AU, ada gestur lima harimau cemas di lima kandang yang pas ukuran seekor harimau. Sorot matanya tajam mengawasi petugas yang hilir mudik di landasan.

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) itu sedang diperkenalkan pada gaung mesin Hercules. Bersamaan lima harimau (empat jantan dan satu betina) berkonflik dengan manusia, ikut serta satu Buaya Muara (Crocodylus porosus).

Burung besi itu siap menerbangkan harimau dan buaya dari bandara udara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar ke Kampung Pengekahan, Desa Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung pada Juni 2008. Tim Tambling Wildlife Nature Conservation atau disingkat (TWNC) dan lain-lain mengawal penerbangan bersejarah. Pasalnya, harimau tersebut tidak dibius selama penerbangan.

Sebelum kandang itu diusung ke perut burung besi itu, harimau tersebut diajak mendengarkan desingan mesin Hercules selama 30 menit agar tidak panik dalam lambung pesawat selama tiga jam lebih. Di dalam Hercules, saya, tim dokter hewan dan lain-lain duduk saling berhadapan dengan lima harimau dan satu buaya. Syukurlah selama di penerbangan, mereka itu tidak berulah.

Dalam dunia penyayang harimau, translokasi harimau sumatera dari Aceh ke Lampung yang merupakan kerja sama kompak yang dirajut Artha Graha Peduli, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) Lampung, Departemen Kehutanan, dan Forum Kerjasama Harimau Sumatera, mungkin merupakan penerbangan terlama pertama di dunia bagi harimau. Penerbangan yang mendebarkan jantung tim TWNC berakhir ketika roda depan hercules mencium landasan bandara udara Raden Inten Lampung. Lalu ganti pesawat dari Hercules ke pesawat Casa take off ke Tampang-Belimbing (Tambling) untuk dikarantina beberapa hari lalu dilepasliarkan ke habitatnya.

Satwa-satwa itu dipindahkan dalam tiga shift. Pemindahan itu disponsori oleh Taman Safari Indonesia dan Artha Graha Peduli.

Translokasi harimau sumatera dengan penerbangan panjang akan menjadi catatan tersendiri bagi pengamat satwa liar. Sebab sebelumnya, Indonesia belum pernah melakukan melakukan translokasi harimau sumatera melalui udara dengan waktu yang lama. Sebelum dilepasliarkan, lima harimau diadaptasi dan direhabilitasi selama dua pekan untuk pemulihan, serta menghuni sementara areal karantina di hutan TNBBS. Kemudian di leher harimau-harimau tersebut dipasang alat deteksi posisi berteknologi satelit (Global Positioning Satellite/GPS collar) untuk memudahkan pemantauan setelah dilepasliarkan.

Tomy Winata, pendiri Artha Graha Peduli (AGP), melalui TWNC berkolaborasi dengan TNBBS, BKSDA Bengkulu serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkomitmen untuk menjaga keseimbangan alam di wilayah Tambling di Kabupaten Pesisir Barat. Mengupayakan dukungan untuk dapat menjaga kelestarian, keaslian habitat hutan setempat di kawasan hutan TNBBS, Tambling.

Kawasan tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang baik yaitu ada lebih dari 500 jenis tumbuhan asli Pulau Sumatera masih hidup alami sejumlah satwa liarlebih dari 40 jenis keluarga mamalia, lebih dari 180 jenis keluarga burung, harimau, gajah, buaya, kerbau liar, burung elang dan sejumlah satwa liar lainnya, terutama tiga satwa liar kunci yaitu harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera. Semua itu merupakan kekayaan alam dan aset daerah, nasional maupun dunia yang harus terus tetap terpelihara.

Empat dari lima ekor harimau asal Aceh yang dibawa ke Lampung dilepasliarkan di hutan TNBBS di Tambling, Enclave Pengekahan, Pekon Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat. Kawasan konservasi di TWNC, TNBBS menjadi rumah baru bagi harimau sumatera menjalani rehabilitasi itu.

Pengembalian harimau sumatera ke habitatnya, menjadi begitu penting ketika penghuni hutan-hutan Sumatera itu makin menyusut populasinya. Ketika harimau kembali ke alam liar, seleksi dalam mangsa di bawahnya, kemudian hewan-hewan herbivora sebagai mangsa utamanya terseleksi, bahkan mempengaruhi sampai rumput sehingga keseimbangan ekosistem akan terwujud.

Di alam bebas, populasi predator yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan itu tinggal sekitar 400-500 ekor harimau menurut data pada tahun 2008 merujuk sumber dari the International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasi harimau sumatera semakin anjlok karena perburuan dan perdagangan ilegal bagian-bagian tubuh harimau, penangkapan mangsa harimau seperti babi dan rusa, dan kerusakan hutan.

Harimau senang alam liar yang seluas-luasnya. Faktanya, habitat rumah semakin sempit, geraknya terbatas hutan makin rusak. Akhirnya, harimau pun tersingkir dari habitatnya dan masuk kampung. Harimau pun menyelinap ke perkampungan untuk mencari mangsa, dan bertemu manusia yang sesungguhnya selalu dihindari.

Menjelang akhir tahun 2007, TWNC dan Taman Safari Indonesia membangun pusat rehabilitasi harimau sumatera. Kelak tempat rehabilitas ini digunakan untuk berbagai harimau yang berkonflik dengan manusia atau faktor lain, sebut saja harimau sumatera yang direlokasi dari Aceh yang bernama Pangeran, Agam, Ucok, Panti, dan Buyung menjalani rehabilitasi di Tambling di bawah pengawasan para ahli dan dokter satwa.

Pada Juli 2009, TWNC menerima satu pasien harimau sumatera dari Jambi bernama Salma. Di pusat rehabilitasi TWNC seluas satu hektare, dibangun kandang habituasi harimau. TWNC berusaha mendidik harimau untuk memunculkan sifat alaminya yang liar.

Interaksi dengan petugas TWNC diminimalkan agar sifat liar harimau tetap ada. Harimau di TWNC bukanlah harimau sirkus yang bisa diperintahkan oleh pelatih.

Pelepasliaran harimau-harimau yang telah menjalani rehabilitasi pertama dilakukan pada 22 Juli 2008. Dua dari lima harimau yang telah sehat yaitu Pangeran dan Agam dilepaskan ke alam bebas. Kemudian pada 22 Januari 2010, Panti dan Buyung menyusul dilepas ke alam liar.

Pada awal Oktober 2011, Panti terlihat di sekitar pusat rehabilitasi TWNC, telapak kakinya terluka. Tim medis TWNC menangkap Panti dan merawat lukanya. Setelah tiga pekan dirawat dengan kasih sayang, panti yang sedang berbadan dua itu melahirkan tiga anak harimau yang diberi nama Bintang, Topan, dan Petir pada 26 Oktober 2011.

Panti dilepasliarkan kembali bersama anaknya Petir pada 3 Maret 2015. Pelepasliaran harimau merupakan proses panjang, proses seleksi, verifikasi, dan parameter-parameter khusus yang harus diamati seperti, harimau menunjukkan sifat potensial individu yang layak dilepas.

Pengamatan antara lain dilakukan pada bagaimana harimau menangkap mangsa, makan, dan bereaksi saat bertemu manusia. Kesehatan, kondisi fisik dan perkembangan reproduksinya juga diamati.

Populasi harimau sumatera di TNWC ditenggarai cenderung terus meningkat dan TNBBS menjadi kawasan konservasi dengan populasi harimau paling padat di Asia Tenggara. Pada tahun 2013, Tambling bekerja sama dengan Panthera (organisasi kucing besar dari Amerika) untuk melakukan monitoring populasi harimau di area Tambling.

Monitoring dilakukan Bersama dengan polisi hutan dan Ranger TWNC dengan menggunakan kamera jebak. Hasil monitoring diidentifikasi sebanyak 24 individu harimau berada di lokasi ini.

Pada tahun berikutnya jumlah identifikasi harimau di Tambling semakin bertambah, dengan munculnya foto anak harimau di hutan. Populasi harimau di Tambling semakin bertambah karena mendapat pengawasan ketat dari polisi hutan TNBBS termasuk Ranger TWNC yang rajin berpatroli. Tim konservasi bergerak bersama mereka untuk melakukan pengamatan dan identifikasi flora dan fauna di TWNC.

.

sumber: repubilka.co.id

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan