oleh: Heka Hertanto

wartaBHINEKA – Jakarta, Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase penggunaan teknologi AI Artificial Intelegence (AI) untuk mendukung dan umat manusia dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari. Jika dulu Sir Walter Raleigh, seorang penjelajah, prajurit, dan penulis asal Inggris pada abad ke-16, menyatakan bahwa “…..siapa pun yang menguasai laut akan menguasai perdagangan; siapa pun yang menguasai perdagangan dunia akan menguasai kekayaan dunia, dan pada akhirnya menguasai dunia itu sendiri” mungkin peryataan tersebut telah bergeser jauh. Bill Gates seorang tokoh dunia dalam bidang teknologi informasi menekankan bahwa internet (jaringan global) menjadi telah menjadi pusat kekuasaan sosial dan ekonomi.

TI saat ini telah mengubah pola komunikasi dunia, dimana jarak ribuan kilometer bukan lagi hambatan untuk saling bertukar informasi dan dapat dilakukan real time tanpa membutuhkan waktu yang lama. TI menyediakan media seperti email, media sosial, dan platform konferensi video yang menghubungkan individu serta pengembangan perangkat seperti komputer dan smartphone serta perangkat lunak agar komunikasi global dapat terjadi secara instan murah dan tanpa batas geografis. Perkembangan teknologi tersebut telah menjadi motor utama penggerak ekonomi dunia, sehingga mempengaruhi kondisi geopolitik dunia, bahkan telah menjadi sebuah kedaulatan baru yang menjadi keunggulan mendasar sebuah negara dalam mengembangkan ekonominya. Melalui penguasaan dalam hal teknologi jaringan komunikasi, pihak-pihak yang menguasai teknologi tersebut mampu menjalankan fungsi untuk menentukan aturan, kebijakan, dan perkembangan teknologi, sehingga mampu memonopoli pembuatan kebijakan sesuai dengan kepentingannya sendiri bahkan dapat memanipulasi, memonitor, dan mengarahkan permainan di jaringan komunikasi global. Kemampuan inilah yang mampu menggeser kondisi geopolitik dunia, sehingga negara-negara superpower seperti Amerika-China-Eropa berlomba-lomba untuk terus mengembangkan teknologi tersebut untuk membentuk sebuah logika baru yaitu pengembangan teknologi jaringan global.

Perkembangan teknologi jaringan antara Amerika Serikat(AS),China, dan Eropa ditandai oleh persaingan ketat, terutama antara AS dan China, dengan Eropa mengambil pendekatan yang lebih terfragmentasi namun tetap inovatif. China telah memimpin dalam penerapan infrastruktur 5G, sementara AS fokus pada inovasi chip canggih, dan Eropa menavigasi keseimbangan antara keamanan dan persaingan pasar global.

China telah membangun jaringan nirkabel 5G untuk kebutuhan global,Amerika dengan teknologichip dan software, serta negara-negara Eropa sebagaipemain kunci peralatan komunikasi. Masing-masing memegang kunci teknologi canggih dalam kebutuhan jaringan komunikasi global.

Perkembangan teknologi ketiganya menjadi model persenjataan untuk menguasai jaringan yang mereka ciptakan. Dengan begitu, saat ini hanya tiga pihak tersebut yang mampu bersaing dalam menentukan aturan yang menjadi preferensi bermain,kemampuan merubah aturan untuk menjaga kepentingan strategis. Sementara pihak atau negara lain hanya dapat bermain sesuai aturan yang diberikan, atau setidaknya dapat merapatkan diri untuk memberikan kontribusi sambil menjaga kepentingan strategis.

Kepanikan Amerika tentang Huawei dan perusahaan-perusahaan Tiongkok lainnya tidak hanya mencerminkan kecemasan tentang penurunan ekonomi, tetapi juga mengungkapkan ketakutan eksistensial baru tentang persaingan teknologi jaringan antar keduanya.

Persaingan dalam teknologi jaringan global antara AS, Eropa, dan China adalah pertarungan geopolitik dan ekonomi yang intens yang berfokus pada dominasi teknologi-teknologi penting seperti 5G, 6G, dan Al. China saatini memimpin pasar peralatan telekomunikasi global, sementara AS dan Eropa merespons dengan control ekspor serta fokus pada keamanan jaringan.

Bagi AS, China dan Eropa, jaringan bukan hanya teritori dimana permain dibuat bagi negara-negara lain untuk menjadi peserta atau pemain, namun jaringan merupakan platform global dimana politik global diarahkan, persaingan didesain dan hasil sudah ditentukan oleh negara-negara dengan kemampuan teknologi canggih.

Dengan perkembangan tersebut, Indonesia harus segera memulai operasi lompatan kuantum untuk mendorong kemampuan teknologi jaringan di semua aspek. Mendorong kolaborasi di ASEAN dengan melibatkan swasta, serta membangun daya tawar yang berasal dari sumberdaya alam yang Indonesia miliki.Indonesia memiliki sumber daya bauksit yang sangat besar,mencapai sekitar 3,47 miliarton. Ditambah nikel sebesar cadangan logam mencapai sekitar 72juta ton (52% cadangan dunia) dan sumberdaya bijih mencapai 174 juta ton, menjadikan Indonesia sebagai penguasa nikel terbesar di dunia, dimana Indonesia menjadi penyumbang 50% produksi global.

Memiliki bauksit dan nikel memberikan ruang potensi bagilndonesia membangun kapabilitas daya tawar mengingat kedua sumber daya alam tersebut berperan penting dalam pengembangan teknologi global. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam sebagai posisi tawar untuk pengembangan teknologi jaringan menjadi hal yang urgensi bagi Indonesia.

Mendorong negara-negara seperti AS, China, maupun negara-negara Eropa untuk bermitra secara bilateral dengan menyisipkan klausul alih teknologi dalam pengadaan dan pengelolaan bauksit dan nikel untuk perkembangan teknologi jaringan komunikasi negara-negara tersebut menjadi opsi ideal yang dijalankan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan teknologi nasional.

Jika Indonesia tidak bergerak cepat, maka Indonesia hanya menjadi pemain saling berhadapan dengan pemain dimana dimana negara-negara superpower menjadi pioner sistem, operator,wasit dan pengontrol pada setiap arena atau permainan politik global, mengingat persaingan dan penguasaan geopolitik kini bergeser menuju teknologi jaringan.

 

You May Also Like

More From Author