Guru di Mimika Jadi Korban KKSB

Guru di Mimika Jadi Korban KKSB
AntaranewsPapua
Jakarta, WartaBHINEKA – Para guru ketika dievakuasi dari Aroanop ke Timika menggunakan dua helikopter milik TNI AD. Isak tangis para guru pecah setelah bertemu dengan kepala sekolah mereka ketika turun dari helikopter di Timika, Kamis (19/4/2018)
Jadi bukan hanya tindakan kekerasan dan intimidasi, tetapi barang-barang kami dijarah oleh KKSB
Timika (Antaranews Papua) – Salah seorang guru SD Negeri Aroanop, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua, Rano Samsul Bahri mengungkapkan barang-barang pribadinya dan tujuh rekannya dijarah oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).
“Jadi bukan hanya tindakan kekerasan dan intimidasi, tetapi barang-barang kami dijarah oleh KKSB,” kata Samsul ketika diwawancara wartawan saat dievakuasi ke Timika, Kamis.
Sebelumnya, pada Jumat (13/4) lalu, KKSB yang diduga melarikan diri dari Kampung Banti, Distrik Tembagapura memasuki Kampung Aroanop setelah dipukul mundur oleh aparat keamanan.
Samsul menuturkan bahwa pada Jumat sekitar pukul 15.00 WIT, sebanyak 20-an anggota KKSB memasuki rumah guru yang mereka tempati di Aroanop dan mulai mengintimidasi para guru yang saat itu berjumlah delapan orang.
“Kami tidak tahu apa tujuan mereka. Kami ditodong dengan senjata api. Guru laki-laki dipisahkan dengan guru perempuan. Guru laki-laki ditodong dengan senjata api yang diarahkan ke kepala,” kata Samsul.
Sedangkan para guru perempuan yang berjumlah empat orang tersebut dipukul dan ditendang. Samsul bahkan menangis dan tidak bisa mengisahkan selanjutnya apa yang dialami para guru perempuan itu.
“Mereka akhirnya kabur dengan membawa 10 unit telepon seluler, empat laptop, sebagian bahan stok makanan, bahkan pakaian kami diambil semua,” katanya lagi.
Ia mengakui bahwa para guru laki-laki tidak berdaya untuk melakukan perlawanan, sebab anggota KKSB tersebut seluruhnya membawa senjata api dan parang serta sangkur yang ditodongkan kepada mereka.
Samsul kembali menangis ketika ditanya apakah peristiwa itu menyurutkan semangatnya untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di wilayah tersebut.
“Kejadian itu tidak menyurutkan semangat kami, justru kami sedih karena alasan kami bertahan di Aroanop adalah nasib anak-anak didik kami dua pekan depan akan melangsungkan ujian kenaikan kelas. Sementara kami harus dievakuasi ke Timika,” kata Samsul. (antaranews.com, 19/4/2018)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan