
Oleh : A.Pangumbara.
wartaBHINEKA – Sejagat dunia terhentak. Sabtu, 3 Januari 2026, Amerika Serikat menyerang dan menculik orang nomor satu di Caracas. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan Ibu Negara yang dijemput paksa dari Istana Caracas.
Serangan Amerika ke Venezuela harus dipahami sebagai bukan siapa yang ditangkap namun bagaimana kepala negara yang betdaulat diborgol. Operasi lintas batas negara tanpa mandat PBB belum terungkap alasan kuat di balik penculikan dan membawa orang asing ke Amerika. Bisa dipastikan operasi ini sudah berlangsung lama. Penggalangan dan pengkondisiaan oleh AS terhadap rakyat Venezuela sudah dilakukan jauh hari sebelummya.
Operasi militer bersandi Absolute Resolve merebut instalasi strategis di Caracas menjadi gempa geopolitik. Amerika menghancurkan hukum internasional pasca-Perang Dunia II dan kembalinya warga dunia ke era Hukum Rimba —di mana kekuatan militer menjadi satu-satunya penentu kebenaran. Tidak ada lagi penghormatan dan pengakuan kedaulatan sebuah negara.
Selama ini prinsip utama hubungan internasional adalah penghormatan terhadap kedaulatan negara. Namun, jika narasi penegakan hukum internasional dijadikan legitimasi untuk menyerang dan menangkap kepala negara yang berdaulat, maka tatanan global pasca-Perang Dunia II berpotensi runtuh.
Presiden AS, Trump berkilah bahwa serangan terhadap Venezuela karena persoalan perdagangan narkotika. Namun dibalik itu, ada cadangan minyak besar di perut bumi Negara Amerika Latin. Data dari BP Statistical Review of World Energy Report menunjukan bahwa Venezuela menyimpan 303 miliar barel minyak mentah. Jumlah ini, seperlima dari total cadangan minyak mentah secara global.
Dilansir dari Reuters, Presiden Maduro telah tiba di AS. Kejatuhan rezim sosialis Maduro membuka ketidakpastian baru, terutama terkait masa depan industri minyak nasional yang selama ini terpuruk akibat sanksi internasional dan minim investasi. Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan, meski memiliki cadangan raksasa, produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1 persen produksi minyak global. Angka ini merosot tajam dibandingkan produksi sebelum 2013 yang mencapai lebih dari 3 juta barel/hari.
Ada kekhawatiran bahwa penculikan kepala negara lain bisa dilakukan oleh AS dengan ragam argumen. Yang terjadi di Venezuela karena berkurangnya atau sirnanya pembela Maduro. Loyalis Maduro duluan angkat kaki. Jadi dengan mudah, loyalis membuka pintu penangkapan ini. Kemungkinan selanjutnya, Amerika sudah menempatkan orang-orangnya di ring Istana. Ada versi lain, energi militer dan polisi di Venezuela habis untuk berperang melawan oposisi dan menteror rakyatnya melalui pembatasan media.
Sementara rakyat yang diharapkan mendukung pengawal presiden sudah muak dengan perilaku elite yang korup dan sebagainya. Satu kata kunci, rakyat muak dan mungkin bersyukur dengan penculikan terheboh pada awal 2026. Bisa dikatakan ketika rakyat orang nomor satu di negara mana pun tidak peduli, maka menangkap kepala negara sangat mudah seperti menepuk nyamuk yang terbang. Sekali tepuk, nyamuk berkelebat mati. Sangat berbahaya ketika negara hanya melayani segelintir elite dan tidak maksimal melayani kepentingan warga.
Sementara dari aspek eksternal, aksi AS invasi ke negara lain bertentangan dengan hukum internasional. AS keluarkan alasan penangkapan ini karena Venuzuela menghancurkan warga AS melalui narkoba yang dipasok ke Negara Paman Sam. Tindakan AS tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun, termasuk narasi narkoterorisme yang disuarakan oleh AS. Secara yuridis, invasi ini adalah tindakan agresi ilegal menabrak norma-norma paling sakral dalam Piagam PBB.
Aksi AS melanggar Pasal 2 Ayat (4) Piagam PBB, yang melarang ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik negara lain. AS tidak memiliki mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB (Bab VII), dan Venezuela tidak melakukan serangan bersenjata (armed attack) ke wilayah AS, sehingga hak bela diri (self-defense) di bawah Pasal 51 gugur demi hukum.
Penculikan Kepala Negara adalah pelanggaran berat terhadap Prinsip Kesetaraan Kedaulatan yang diatur dalam Pasal 2 Ayat 1 serta hukum kebiasaan internasional mengenai imunitas diplomatik.Jika negara lain membiarkan penculikan ini, tidak ada satu pemimpin negara di dunia termasuk Indonesia yang aman dari yurisdiksi sepihak negara adidaya. Invasi AS adalah bentuk imperialisme yudisial yang sangat berbahaya bagi stabilitas tatanan global ke depan.
Apa motif AS serbu ke Venazuela? Kita sudah sering dengan Perang Minyak alias memperebutkan sumber energi minyak. Operasi bertemeng penegakan hukum adalah tentang penguasaan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mencapai lebih dari 300 miliar barel. AS berusaha mengamankan pasokan energinya sendiri Bila AS serbu Venezuela demi minyak, dampaknya Iran merasakan target selanjutnya. tentu saja Ketika global tidak nyaman akan berdampak ke Indonesia.
Pelajaran lain dari Venezuela yakni pertahanan Venezuela runtuh hanya dalam hitungan jam. Padahal, mereka memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang modern, termasuk S-300VM Rusia, radar Tiongkok, hingga jet tempur Su-30MK2. Venezuela adalah salah satu contoh dari kegagalan negara menyelamatkan dan mengamankan kepala negara.
Venezuela memiliki alutsista termodern namun gagal membangun kedaulatan sistem integrasi data. Patut diduga, AS melakukan serangan siber dan Perang Elektronika (Electronic Warfare) masif untuk melumpuhkan radar sebelum rudal pertama ditembakkan.
Indonesia sebagai negara kepulauan tidak bisa hanya bergantung pada luasnya laut, tapi mampu harus mampu mengubah choke points menjadi “Zona Mematikan” (Kill Zone) bagi agresor sebelum lawan menyentuh garis pantai.
Asap yang membubung di Caracas adalah sinyal yang mungkin akan berdampak ke postur APBN. Swasembada energi adalah harga mati. Harga minyak dunia yang berpeluang naik setelah invasi kemungkinan akan berdampak negatif pada APBN karena ada subsidi energi. Indonesia harus unggul pada kedaulatan energi. Tanpa ketangguhan pada asepk energi, Ibu Pertiwi tidak berdaya pada gesekan global.
Indonesia butuh Pagar Nusantara dari Papua ke Aceh, dari Pulau Ronte ke Pulau Miangas. Rakyat, elite pejabat dan lain-lain yang loyalis ke bangsa adalah benteng terbaik dalam mengamankan Presiden dan Wakil Presiden dan lain-lain. hal ini terbentuk jika dari atas memberikan kepedulian kepada rakyat. Peralaratan perang yang canggih dan sebagainya akan jadi sampah ketika pemegang alat itu tidak lagi loyal ke negara. AS bisa menangkap Maduro karena penghuni Istana tidak lagi loyal kepada presidennya mungkin karena perilaku korup dan sebagainya.
RI butuh Sistem Pertahanan Udara Jarak Jauh untuk payung udara, kemandirian digital militer untuk memastikan sistem komunikasi TNI aman dari penyadapan asing serta penguatan armada kapal selam yang senyap dalam melumpuhkan musuh adalah instrumen deterrent paling efektif bagi Indonesia sebagai negara maritim.
Venezuela adalah cermin retak suatu negara kaya sumber daya alam namun gagal membangun ekonomi mandiri dan pertahanan cerdas. Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam yang melimpah , pertahanan negara sangat penting . Mari kita perkuat dan jaga persatuan bangsa secara fisik dan non fisik demi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia .
